Kamis, 16 April 2026

Rhema 3 Februari 2026

Pengkhotbah 3 : 24-25

Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah.

Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?

Baca ini semakin diteguhkan bahkan untuk bisa menikmati hal2 pun butuh kasih karunia Tuhan. Bisa aja seseorang mengumpulkan uang yg banyak tapi kalo gak dikasih karunia utk menikmati ya hilang aja harta bendanya.

Dalam Pengkhotbah 3 ini kita juga diajak menyadari bahwa semua kenikmatan yg ingin dirasakan manusia itu ada batasnya. 1-2 kali mencoba terasa nikmat, tapi bisa akhirnya jadi bosan atau malah kurang & bisa juga jadi seperti adiksi. Ingin lagi dan lagi tapi gak bisa mencapai kepuasan yg sejati.

Karena sesungguhnya ruang kosong didalam diri manusia itu hanya utk diisi oleh Tuhan saja. Keintiman hubungan dg Tuhan-lah yg bisa membuat kita merasa content. Kepuasan yg sejati. Kebahagiaan yg hakiki.

Maka ini menjadi pengingat bagi saya utk tidak mencari kepuasan2 yg gak berkenan di hati Tuhan krn itu semua sia-sia aja & gak membawa damai sejahtera yg sejati dlm hidup kita. Cari Tuhan saja sumber kepuasan batin kita yg sejati. Kita menjadi lengkap karena kehadiranNya dalam hati & hidup kita.

Kisah Para Rasul 3 : 6

Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!"

Memberkati & melayani sesama utk menyaksikan kasih Tuhan tidak harus selalu dalam bentuk materi. Bisa lewat cara lain seperti hadir disaat sesama kita menbutuhkan dukungan moril. Menghibur ketika sesama kita sedang dalam kepedihan atau keputusasaan. Memberi info kepada yg butuh lowongan. Memasakkan makanan, menanyakan kabar lewat telp atau WA. Mendoakan ketika sesama butuh penguatan. 

Tidak semua hal bisa diukur dengan materi. Jadi bentuk kasih kepada sesama banyak ragamnya. Apabila kita terbatas secara materi bukan berarti langkah kita utk berbagi kasih menjadi terbatas.

Rhema 1 Februari 2026

Kisah Para Rasul 1:4 (TB)  

Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang — demikian kata-Nya —"telah kamu dengar dari pada-Ku.

Kisah Para Rasul 1:8 (TB)  

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

Ada saatnya Tuhan bilang supaya murid2 jgn meninggalkan Yerusalem. Tapi ada saatnya pula Tuhan minta mereka pergi utk jadi saksiNya sampai ke seluruh dunia.

Maka apapun yg kita rencanakan saat ini, Mari letakkan di tangan Tuhan. Tanyakan padaNya apa yg harus kita lakukan. Apakah menunggu, apakah "jangan lewat jalan itu", atau justru "mari jalani jalur itu". Peka dg rencanaNya melalui hubungan pribadi yg erat denganNya supaya kita senantiasa berjalan dalam kehendakNya.

Pengkhotbah 1:8 (TB)  

Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.

Pas baca ayat ini yg merhema di hati itu : kalo kita gak jaga mata kita & telinga kita, tidak membatasi apa yg kita lihat, tidak memilah2 apa yg kita dengar, bisa jadi kita digiring ke dalam dosa. Melihat tontonan yg tidak pantas/ pornografi & jadi ketagihan. Dengar gosip & menjadi nyaman utk setiap kali tertarik mendengar aib orang.

Ketika kita menjaga gerbang mata & telinga kita maka kita bs menjaga hati kita utk terhindar dari hal2 yg tidak baik. Biarlah saya boleh submit dalam kehendak Tuhan dg menyaring apa yg masuk ke mata & telinga saya supaya apa yg baiklah yg dari Tuhan yg masuk utk membentuk hati saya sebagaimana kehendakNya.

Rhema 6 Januari 2026

Ester 6

Baca pasal ini bener2 berasa nonton film yg jagoannya kesannya kalah di awal tapi tau2 malah menang telak di akhir.

Mordekhai gak pernah merajuk krn g dpt apa2 ketika sudah berhasil menyelamatkan nyawa raja. Tapi good deeds itu upahnya mau bagaimanapun dihalangin sama manusia atau si jahat (iblis), Tuhan selalu punya cara utk kasih upahnya ke orang benar. Siapa yg sangka di-kegabutan raja, malah Tuhan kasih tau perbuatan baik Mordekhai lewat pembacaan catatan sejarah. Yg lebih gong lagi, hadiahnya ditentukan sendiri oleh musuh Mordekhai yg berusaha membunuhnya. Kek double kill bgt buat Haman. Dia yg berharap disembah malah akhirnya harus memuliakan Mordekhai sesuai perintah Raja (berdasarkan ucapan Haman sendiri).

Yg kudapat :

  1. Berbuat baik & benar harus tulus & gak dibuat2. Upahnya pasti akan kita tuai di waktu yg tepat. Tuhan itu adil.
  2. Kalo Allah yg bela kita, bahkan tanpa effort dari kita, musuh pun tunduk. Tetap jaga hidup dlm kebenaran & kerendahan hati.
  3. Biar manusia seberkuasa apapun berusaha jatuhin kita, kalo Tuhan mau promosiin kita, pasti ada aja jalannya.

Rhema 5 Januari 2026

Ester 5:14 (TB)  

Lalu kata Zeresh, isterinya, dan semua sahabatnya kepadanya: "Suruhlah orang membuat tiang yang tingginya lima puluh hasta, dan persembahkanlah besok pagi kepada raja, supaya Mordekhai disulakan orang pada tiang itu; kemudian dapatlah engkau dengan bersukacita pergi bersama-sama dengan raja ke perjamuan itu." Hal itu dipandang baik oleh Haman, lalu ia menyuruh membuat tiang itu.

Jadi istri itu harus bijaksana. Kalau suami marah bukan siram bensin ke api. Justru harus meredakan amarahnya agar suami bisa berpikir & mengambil keputusan yg benar. Tidak demikian yg terjadi dg istri Haman. Ia memperkeruh suasana dg ide soal tiang gantungan utk Mordekhai. Jadi pembelajaran buat saya utk tidak jadi istri yg berjiwa provokator. Kalo suami emosi bukan malah dipancing, tapi diredakan dg sikap berhikmat.

Rhema 3 Januari 2026

Ester 3:9-10 (TB) 

Jikalau baik pada pemandangan raja, hendaklah dikeluarkan surat titah untuk membinasakan mereka; maka hamba akan menimbang perak sepuluh ribu talenta dan menyerahkannya kepada tangan para pejabat yang bersangkutan, supaya mereka memasukkannya ke dalam perbendaharaan raja." 

Maka raja mencabut cincin meterainya dari jarinya, lalu diserahkannya kepada Haman bin Hamedata, orang Agag, seteru orang Yahudi itu,

Baca ini jadi sadar kadang saya sama aja kayak Raja Ahasyweros yg sering cm denger cerita dari satu pihak lalu dg gegabah ambil keputusan yg belum tentu tepat. Kenyataannya tiap orang itu punya POV yg pasti benar menurut pandangannya sendiri.

Pasti Haman cari pembenaran utk diri sendiri. Raja gak akan tahu versi dari Mordekhai kenapa dia gak mau sujud kpd Haman. Lagi pula apa iya bila seseorang bersalah harus semua bangsanya yg kena akibatnya? Raja dg mudah terperdaya & merestui pemusnahan bangsa Yahudi. 

Kalo saya gak bijak pun, bisa aja saya anggap si A (misalnya) udah pasti bersalah sesuai cerita si B. Padahal belum tentu kejadiannya demikian. Harus ada counter dari A supaya lebih adil. Jadi kalo saya denger cerita seseorang, saya gak boleh langsung dg mudahnya menghakimi. Segala sesuatu harus diuji kebenarannya. Bisa aja yg kita anggap teman ternyata menjerumuskan kita utk ambil keputusan yg salah (misal : ikut membenci orang lain).

Kalo kita bahkan punya posisi yg penting utk ambil keputusan yg berdampak luas, minta hikmat Tuhan utk dibukakan kebenaran supaya tidak sembarang memutuskan.

Mazmur 66:18 (TB)  

Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar. 

Tuhan adalah Allah yg baik & benar. Ia bukan eksekutor kita yg bisa "disuruh-suruh" utk membalaskan orang2 yg jahat kepada kita agar orang2 tsb bisa kena hukuman sekehendak hati kita. Maka jauhkanlah kiranya dari diri saya utk mendoakan yg jahat bagi orang lain. Rasanya malu kalo udah ikut Tuhan lama tapi masih aja punya mental kayak gini. Saya harus upgrade sesuai kehendak Tuhan. Mendoakan hal yg benar menurut kehendak Tuhan, bahkan utk orang2 yg sulit.

Rhema 2 Januari 2026

Mazmur 65 : 11

Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu,

jejak-Mu mengeluarkan lemak;

Baca ayat ini di awal tahun terasa sangat menguatkan & memberi kesejukan di hati, karena memberi pengharapan bahwa didalam ketidaktahuan akan apa yg ada di depan kita, Tuhan sudah merancangkan kebaikan bagi kita. Selama kita mengikuti jejaknya Tuhan, maka kita tidak akan tersesat. Selalu akan ada berkat disana. Tidak melulu bicara soal harta benda, tapi juga bisa dalam bentuk kesehatan, kasih dari orang-orang di sekitar kita, bahkan kalo tempat tinggal kita aman, alam keadaannya baik, itu juga berkat Tuhan.


Ester 2 : 19-22

Selama anak-anak dara dikumpulkan untuk kedua kalinya, Mordekhai duduk di pintu gerbang istana raja.

Pada waktu itu, ketika Mordekhai duduk di pintu gerbang istana raja, sakit hatilah Bigtan dan Teresh, dua orang sida-sida raja yang termasuk golongan penjaga pintu, lalu berikhtiarlah mereka untuk membunuh raja Ahasyweros.

Tetapi perkara itu dapat diketahui oleh Mordekhai, lalu diberitahukannyalah kepada Ester, sang ratu, dan Ester mempersembahkannya kepada raja atas nama Mordekhai.

Sebenarnya Mordekhai awalnya hanya berniat mengawasi Ester, tapi ternyata hal itu Tuhan pakai utk membuatnya mengetahui persekongkolan Bigtan & Teresh utk membunuh raja. Dan kalau nanti baca di pasal-pasal berikutnya, hal ini juga jadi moment yg penting dlm penyelamatan nyawa Mordekhai sendiri.

Ibarat perjalanan memasuki tahun baru ini, kita tuh gak tahu apa yg akan terjadi di keesokan hari, sebulan kemudian, atau bahkan sampai menjelang akhir tahun. Tapi rancangan Tuhan tuh gada yg kebetulan. Kadang kita mikirnya ah peristiwa ini biasa aja, tapi ternyata kejadian itu malah jadi moment penting yg Tuhan pakai dlm hidup kita utk mengubah sesuatu. Everything happens for a reason. Gada yg kebetulan. Rajutan peristiwa yg Tuhan renda dalam hidup kita itu tujuannya utk kebaikan kita. Mari ikut caranya Tuhan dg taat supaya cepet sampainya ke tujuan yg Tuhan mau.


Rhema 3 Februari 2026

Pengkhotbah 3 : 24-25 Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadar...